Gus Baha ( sebuah kesombongan yang saya kagumi )
Saya menulis tulisan ini sambil terus terheran heran, merenungkan
sebuah fakta ( menurut saya ya) bahwa orang yang alim dan sholeh akan terlihat
indah dan menawan walaupun melakukan sesuatu yang bagi orang kebanyakan kaya
saya ini terlihat “buruk”.
Setiap mendengar kata Gus Baha atau Kyai haji Bahaudin Nur Salim,
langsung terdetik difikiran saya seseorang yang sangat alim, yang dengan
retorika khas santri pondok pesantren mampu membius berbagai kalangan dari
orang awam samapi orang alim, dari santri pondok sampai apara akademisi.
Tetapi selain terkenal dengan kealimannya yang diakui berbagai
kalangan, saya sendiri jika mendengar gus baha juaga akan teringat kepedean
beliau dalam menerangkan segal hal dan kenarsisan ilmu beliau. Yang mungkin
bagi beberapa kalangan yang kurang senang atau yang baru mengikuti kajian
beliau disebut sebagi “ kesombongan”.
Sombong, ya sombonglah salah satu imej yang muncul dari ungkapan
ungkapan beliau, tetapi harus diakui bahwa sombongnya Itu Loh,,, yang Bikin
Kita Yakin !!!!!,,.
•Kenapa
Kita Percaya Gus Baha'???
"Sombong." •
Faktor apa yang membuat banyak orang percaya dengan pemikiran Gus
Baha'? Kenapa banyak orang (dari berbagai kalangan dan organisasi) mudah
menerima pendapat beliau ? bukan Cuma menerima tapi manggut manggut, sambil
berkata dalam hati “iya’ ?
Salah satunya adalah : "Kesombongan". Dalam arti, beliau
kerap dengan percaya diri menunjukkan kealimannya. Menunjukkan pada khalayak
bahwa beliau benar-benar pandai dan menguasai apa yang sedang dibicarakan.
Terkait Alquran, sebagai standard utama tingkat keulamaan
seseorang. Beliau tak sungkan menyatakan bahwa sudah sejak kecil menghafal Alquran.
Sudah sejak kecil mempelajari Alquran. Secara Bapaknya, KH Nursalim adalah
seorang hafidz yang ahli Quran. Bisa dibilang Alquran adalah sahabatnya. (Kira-kira
sama seperti Kapten Tsubasa yang bersahabat dengan bola, atau mongkey de lutfi dengantopi
jeraminya atau juga messi dengan bolanya). Hehehehe....
Di sela ngaji, beliau kerapkali bilang; Saya sudah khatam Kitab
Ihya' 4 sampai 5 kali.
Hampir hafal titik koma Ihya'. Bahkan sudah
mengkaji kitab karya Hujjatul Islam ini lewat beberapa versi penerbit. Tiga
atau empat versi cetakannya. Belum lagi, beliau juga beberapa kali mengaku
mengkhatamkan kitab Ithaf (Syarah Ihya') karya Sayyid az-Zabidi.
Lewat pengakuan tersebut, ulama-kiai Islam tradisional yang begitu
mengagungkan Al-Ghazali dan Ihya'-nya bisa dibilang akan langsung merasa kalah.
Apalagi, mereka yang khatam Ihya'-nya baru sekadar ikut khataman. 😆 Tanpa ikut ngaji full.
Urusan hadits, beliau pun berulang kali bilang; Shahih al-Bukhari
adalah bacaan kesukaan. Beliau amat percaya dengan isi hadits yang diriwayatkan
Imam Bukhari itu. Bahkan menjadikan Bukhari sebagai standar utama mengenal
Nabi. Pun untuk urusan ghaib yang akan terjadi di masa depan.
Saat menyebutkan suatu hadits, misalnya, beliau kerap bilang : "Saya
hafal betul teks haditsnya. Karena sengaja saya hafalkan!!!" Coba deh,
siapa yang gak langsung angkat tangan "melawan" orang yang begitu
yakin dan mantabnya menyebut kata per kata sebuah hadits.
Di saat bersamaan, banyak penceramah (muballigh) yang kerap
ragu-ragu dengan hafalan haditsnya lewat ucapan : Au Kama Qola.
أو كما قال.
Para ustadz yang fanatix dengan pertanyaan: "mana
haditsnya", "haditsnya shahih gak???", Bisa langsung membuka
tangan, mengiyakan. Jika disebut hadits
itu ada di Bukhari atau Muslim. Kalaupun sudah disebut riwayat Bukhari -
Muslim, masih ngeyel tanya; dishahihkan Albani apa gak??? Ya emang orang itu
yang ruwet.
Para guru yang fanatik fiqih, tentu akan langsung 'iya-iya...' kala
mendengar pengakuan beliau yang dengan PEDE bilang sudah "ngelontok"
kitab Fathul Muin dan Ianatut Tholibin.
Sebab,
pernah jadi rois Fathul Muin sewaktu mondok di Sarang.
Demikian pula dengan kitab-kitab fikih lain madzhab Syafii--karya
Imam Nawawi, Imam Rofii, Imam Suyuthi, hingga Zakaria al-Anshari. Bahkan,
pemikiran-pemikiran madzhab Hanafi pun banyak diakrabi.
Begitulah, "kesombongan" soal ilmu yang kerap beliau
tampakkan. Bahkan beliau tak segan-segan menantang siapa pun yang menolak
pendapatnya. "Tapi, ya harus selevel lah... Minimal hafal Quran mantab dan
sekian ribu hadits. Baru boleh debat saya. Saya siap berguru pada orang itu, jika memang
terbukti lebih alim." begitu
kira-kira ucapan beliau.
Lha,,,, kalau hafalnya cuma ayat "Udkhulu fis silmi kaaaffah...", yang lainnya gak hafal, ya levelnya baru
belajar iqro' itu. Kalau kata seorang kiai alim itu, levelnya baru belajar
mengeja : م - ت - م,,,,,,,,,,,,,
Apalagi beliau juga sering mengatakan bahwa qoidatul khilaf yaitu
selevel. Contohnya seorang anak TK yang berbeda pendepat dengan ayahnya yang doktor,tidak
bisa disebut khilafiyah pendapat. Atau ketika pendapat seorang penceramah atau
ustadz yang ternyata berbeda dengan pendapat Imam Safi’i, ini juga g’ bisa
disebut pendapat khilafiyah. Karena jelas, maqom, kemasyhuran, keilmuan dan
lain lain jauh.
Apa penyebab beliau bersikap
seperti itu ????
Barangkali karena keresahan beliau dengan banyaknya muballigh zaman
sekarang yang kurang ilmu. Dia tenar dan banyak penggemar gara-gara TV atau
media (lain). Lantas merasa GR bahwa dia layak berfatwa. Padahal, ilmu tak ada.
Modal pintar ngomong doang. Disuruh
men-tashrif kata: قال - يقول saja mbulet, kayak baca surat
al-Kafirun.
Gak
selesai-selesai hehehe
Memang menurut saya tidak semua
penceramah atau muballig adalah ulama, dulu jaman ta’biin dan salfuna sholeh
ada yang disebut ulama ada juga yang disebut qhossoshin. Qhossosin dulu adalah
orang yang sering bercerita didepan umum.
Lebih dari itu, sikap ini juga ada sanadnya. Artinya, ada tuntunan
dan contoh dari para ulama terdahulu. Beberapa kali saya mendengar beliau mengutip
sebuah kata
إذا ظهرت الفتن ، فليظهر العالم علمه.
"Jika
sudah nampak fitnah-fitnah (urusan agama), maka orang alim harus menunjukkan
ilmunya."
Keadaan dunia makin rusak, sebab orang-orang alim tidak mau
mengajar. Tidak mau mengisi ceramah. Alasannya, masih belum cukup ilmu.
Padahal, sudah mondok-nyantri puluhan tahun. Sudah hafal Imrithy. Sudah khatam
dan menguasai Fathul Qoribd. Sudah ngaji Hikam--bahkan Ihya' Ulumiddin. Gaya-gayanya
sich tawadhu'. Tapi, sejatinya memberi ruang bagi orang-orang yang kosong
ilmunya untuk mengajarkan agama.
Selain itu, seorang memang harus menunjukkan bahwa dirinya adalah
Alim. Analoginya gini, dokter menulis di depan rumahnya tulisa “dokter, membuka
praktek” , agar orang orang yang sakit berobat kepadanya biar yang sakit
berobat kpd dokter, bukan kepada yang lain. Seorang ahli memperbaiki motor,akan
membuka bengkel agar orang orang yang motornya rusak memperbaiki motornya
dibengkelnya. Terus kenapa orang yang menguasahi ilmu agama malu untuk mengakui
kalau dia ahli ilmu agama ? kalau dia tidak diketahui/ tidak terkenal ahli
agama , maka masyarakat yang mau bertanya tentang agama akan mencari orang yang
dia anggap tahu. Dan itu bisa jadi salah orang. Bukankah itu artinya sang alim menutupi ilmunya dan membiarkan orang salah
jalan ......
Mungkin karena pemahaman inilah saya
sangat kagung dengan “kesombongan” Gus baha’
Wallahu a'lam...
2 komentar:
Dalam "angel" lain, mungkin itu bukan "kesombongan", justeru keberanian utk menunjukkan kebenaran.
Ulama' muda yg sangat luas keimuannya... Kulo nggih remen mirengaken pengaosannipun Gus Baha'...
Posting Komentar