Senin, 01 Juni 2020

Gus Baha, sebuah "kesombongan" yang saya kagumi



Gus Baha ( sebuah kesombongan yang saya kagumi )

Saya menulis tulisan ini sambil terus terheran heran, merenungkan sebuah fakta ( menurut saya ya) bahwa orang yang alim dan sholeh akan terlihat indah dan menawan walaupun melakukan sesuatu yang bagi orang kebanyakan kaya saya ini terlihat “buruk”.    
Setiap mendengar kata Gus Baha atau Kyai haji Bahaudin Nur Salim, langsung terdetik difikiran saya seseorang yang sangat alim, yang dengan retorika khas santri pondok pesantren mampu membius berbagai kalangan dari orang awam samapi orang alim, dari santri pondok sampai apara akademisi.
Tetapi selain terkenal dengan kealimannya yang diakui berbagai kalangan, saya sendiri jika mendengar gus baha juaga akan teringat kepedean beliau dalam menerangkan segal hal dan kenarsisan ilmu beliau. Yang mungkin bagi beberapa kalangan yang kurang senang atau yang baru mengikuti kajian beliau disebut sebagi “ kesombongan”.
Sombong, ya sombonglah salah satu imej yang muncul dari ungkapan ungkapan beliau, tetapi harus diakui bahwa sombongnya Itu Loh,,, yang Bikin Kita Yakin !!!!!,,.

•Kenapa Kita Percaya Gus Baha'???
 "Sombong." •
Faktor apa yang membuat banyak orang percaya dengan pemikiran Gus Baha'? Kenapa banyak orang (dari berbagai kalangan dan organisasi) mudah menerima pendapat beliau ? bukan Cuma menerima tapi manggut manggut, sambil berkata dalam hati “iya’ ?
Salah satunya adalah : "Kesombongan". Dalam arti, beliau kerap dengan percaya diri menunjukkan kealimannya. Menunjukkan pada khalayak bahwa beliau benar-benar pandai dan menguasai apa yang sedang dibicarakan.

Terkait Alquran, sebagai standard utama tingkat keulamaan seseorang. Beliau tak sungkan menyatakan bahwa sudah sejak kecil menghafal Alquran. Sudah sejak kecil mempelajari Alquran. Secara Bapaknya, KH Nursalim adalah seorang hafidz yang ahli Quran. Bisa dibilang Alquran adalah sahabatnya. (Kira-kira sama seperti Kapten Tsubasa yang bersahabat dengan bola, atau mongkey de lutfi dengantopi jeraminya atau juga messi dengan bolanya). Hehehehe....
Di sela ngaji, beliau kerapkali bilang; Saya sudah khatam Kitab Ihya' 4 sampai 5 kali.
 Hampir hafal titik koma Ihya'. Bahkan sudah mengkaji kitab karya Hujjatul Islam ini lewat beberapa versi penerbit. Tiga atau empat versi cetakannya. Belum lagi, beliau juga beberapa kali mengaku mengkhatamkan kitab Ithaf (Syarah Ihya') karya Sayyid az-Zabidi.

Lewat pengakuan tersebut, ulama-kiai Islam tradisional yang begitu mengagungkan Al-Ghazali dan Ihya'-nya bisa dibilang akan langsung merasa kalah. Apalagi, mereka yang khatam Ihya'-nya baru sekadar ikut khataman. 😆 Tanpa ikut ngaji full.

Urusan hadits, beliau pun berulang kali bilang; Shahih al-Bukhari adalah bacaan kesukaan. Beliau amat percaya dengan isi hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari itu. Bahkan menjadikan Bukhari sebagai standar utama mengenal Nabi. Pun untuk urusan ghaib yang akan terjadi di masa depan.
Saat menyebutkan suatu hadits, misalnya, beliau kerap bilang : "Saya hafal betul teks haditsnya. Karena sengaja saya hafalkan!!!" Coba deh, siapa yang gak langsung angkat tangan "melawan" orang yang begitu yakin dan mantabnya menyebut kata per kata sebuah hadits.
Di saat bersamaan, banyak penceramah (muballigh) yang kerap ragu-ragu dengan hafalan haditsnya lewat ucapan :  Au Kama Qola.
 أو كما قال.
Para ustadz yang fanatix dengan pertanyaan: "mana haditsnya", "haditsnya shahih gak???", Bisa langsung membuka tangan, mengiyakan.  Jika disebut hadits itu ada di Bukhari atau Muslim. Kalaupun sudah disebut riwayat Bukhari - Muslim, masih ngeyel tanya; dishahihkan Albani apa gak??? Ya emang orang itu yang ruwet.
Para guru yang fanatik fiqih, tentu akan langsung 'iya-iya...' kala mendengar pengakuan beliau yang dengan PEDE bilang sudah "ngelontok" kitab Fathul Muin dan Ianatut Tholibin.
Sebab, pernah jadi rois Fathul Muin sewaktu mondok di Sarang.
Demikian pula dengan kitab-kitab fikih lain madzhab Syafii--karya Imam Nawawi, Imam Rofii, Imam Suyuthi, hingga Zakaria al-Anshari. Bahkan, pemikiran-pemikiran madzhab Hanafi pun banyak diakrabi.
Begitulah, "kesombongan" soal ilmu yang kerap beliau tampakkan. Bahkan beliau tak segan-segan menantang siapa pun yang menolak pendapatnya. "Tapi, ya harus selevel lah... Minimal hafal Quran mantab dan sekian ribu hadits. Baru boleh debat saya.  Saya siap berguru pada orang itu, jika memang terbukti lebih alim."  begitu kira-kira ucapan beliau.
Lha,,,, kalau hafalnya cuma ayat  "Udkhulu fis silmi kaaaffah...",  yang lainnya gak hafal, ya levelnya baru belajar iqro' itu. Kalau kata seorang kiai alim itu, levelnya baru belajar mengeja : م - ت - م,,,,,,,,,,,,,
Apalagi beliau juga sering mengatakan bahwa qoidatul khilaf yaitu selevel. Contohnya seorang anak TK yang berbeda pendepat dengan ayahnya yang doktor,tidak bisa disebut khilafiyah pendapat. Atau ketika pendapat seorang penceramah atau ustadz yang ternyata berbeda dengan pendapat Imam Safi’i, ini juga g’ bisa disebut pendapat khilafiyah. Karena jelas, maqom, kemasyhuran, keilmuan dan lain lain jauh.
Apa penyebab beliau  bersikap seperti itu ????
Barangkali karena keresahan beliau dengan banyaknya muballigh zaman sekarang yang kurang ilmu. Dia tenar dan banyak penggemar gara-gara TV atau media (lain). Lantas merasa GR bahwa dia layak berfatwa. Padahal, ilmu tak ada.  Modal pintar ngomong doang. Disuruh men-tashrif kata:  قال - يقول  saja mbulet, kayak baca surat al-Kafirun.
Gak selesai-selesai hehehe
            Memang menurut saya tidak semua penceramah atau muballig adalah ulama, dulu jaman ta’biin dan salfuna sholeh ada yang disebut ulama ada juga yang disebut qhossoshin. Qhossosin dulu adalah orang yang sering bercerita didepan umum.
Lebih dari itu, sikap ini juga ada sanadnya. Artinya, ada tuntunan dan contoh dari para ulama terdahulu.  Beberapa kali saya mendengar beliau mengutip sebuah kata
إذا ظهرت الفتن ، فليظهر العالم علمه.

"Jika sudah nampak fitnah-fitnah (urusan agama), maka orang alim harus menunjukkan ilmunya."
Keadaan dunia makin rusak, sebab orang-orang alim tidak mau mengajar. Tidak mau mengisi ceramah. Alasannya, masih belum cukup ilmu. Padahal, sudah mondok-nyantri puluhan tahun. Sudah hafal Imrithy. Sudah khatam dan menguasai Fathul Qoribd. Sudah ngaji Hikam--bahkan Ihya' Ulumiddin. Gaya-gayanya sich tawadhu'. Tapi, sejatinya memberi ruang bagi orang-orang yang kosong ilmunya untuk mengajarkan agama.
Selain itu, seorang memang harus menunjukkan bahwa dirinya adalah Alim. Analoginya gini, dokter menulis di depan rumahnya tulisa “dokter, membuka praktek” , agar orang orang yang sakit berobat kepadanya biar yang sakit berobat kpd dokter, bukan kepada yang lain. Seorang ahli memperbaiki motor,akan membuka bengkel agar orang orang yang motornya rusak memperbaiki motornya dibengkelnya. Terus kenapa orang yang menguasahi ilmu agama malu untuk mengakui kalau dia ahli ilmu agama ? kalau dia tidak diketahui/ tidak terkenal ahli agama , maka masyarakat yang mau bertanya tentang agama akan mencari orang yang dia anggap tahu. Dan itu bisa jadi salah orang. Bukankah itu artinya sang alim  menutupi ilmunya dan membiarkan orang salah jalan ......
            Mungkin karena pemahaman inilah saya sangat kagung dengan “kesombongan” Gus baha’  Wallahu a'lam...


2 komentar:

Kang Ansorie mengatakan...

Dalam "angel" lain, mungkin itu bukan "kesombongan", justeru keberanian utk menunjukkan kebenaran.

Aananam mengatakan...

Ulama' muda yg sangat luas keimuannya... Kulo nggih remen mirengaken pengaosannipun Gus Baha'...

Posting Komentar

Pilihan

Judul ini memang merujuk ke hawa panas yg sedang dirasakan sebagian besar kita ya, hawa panas yg mulai menyebar karena akan ada ...